SISTEM KEPERCAYAAN MASYARAKAT LAMPUNG

SISTEM KEPERCAYAAN MASYARAKAT LAMPUNG

Dahulu masyarakat kita pada dasarnya menganut system kepercayaan animism dan dinamisme yaitu animisme adalah suatu kepercayaan terhadap ruh atau arwah-arwah nenek moyang, sedangkan dinamisme adalah suatu kepercayaan terhadap benda-benda yang dikeramatkan atau yang memiliki kekuatan gaib.

Begitu juga masyarakat Lampung, sebelum adanya pengaruh Hindu dan Budha masyarakat Lampug masih menganut kepercayaan itu. Ketika agama Islam masuk kepercayaan tiu berkurang namun hingga saat ini kepercayaan itu masih di yakini oleh sebagian mayarakat bahwa hal-hal yang keramat itu ada.

Kepercayaan-kepercayaan terhadap hal-hal gaib pada masa lampau (orang lampung menyebut zaman tumi) masih dapat dilihat pada upacara-upacara adat. Salah satunya adalah kepercayaan terhadap dewa-dewa.

  • Dewa Pencipta Alam Semesta

Nama dewa ini adalah :Sang Hyang Sakti” yang dianggap sebagai pencipta alam beserta isinya sehingga dalam ilmu-ilmu perdukunan dan mantera-mantera (tetangguh) baik didarat, laut dan di sungai, selalu lidah menjadi tumpuan harapan untuk memohon keselamatan pada saat itu juga.

Misal: mantera meminta izin berburu Rusa

“Huuuuhh…(kaki kanan diangkat kelutut kiri) assalamualikum Sang Hyang Sakti, Raja sang Raja Diwa, sakinduajipun, kilu titeh, kilu gimbar, mahap seribu mahap, ampun seribu ampun, lainki sambrana……dst.”

Artinya:

“Huuu assalamualaikum Sang Hyang Sakti, Raja sang raja Dewa, Hamba ini, mohon bantuan, minta jaya, maaf seribu kali maaf, ampun seribu ampun, buka berarti lancing….dst.”

Dari mantera diatas nampaklah campur baur antara Islam dan kepercayaan kepada dewa-dewa, yakni dewa pencipta alam.

  • DEWI (Dewi Wanita)

Di Lampung disebut juga : “Muli Putri” atau “Bidadari”. Pada waktu orang bertemu sumur yang jernih atau kolam yang rapid an terurus baik di dalam hutan belantara maka kolam/sumur ini dikatakan sebagai “Pangkalan Muli” yang berarti Tempat bidadari, Putri atau pemandian bidadari yang turun dari kayangan,

Demikian pula pada waktu pagi hari raya Idul fitri, orang-orang kampong akan saling mendahului mandi di Pangkalan Putri, karena masyarakat beranggapan bahwa yang pertama kali tiba di pemandian tersebut akan mencium bau wewangian sebagai tanda bidadari-bidadari baru saja pergi setelah mandi di pemandian tersebut.

  • Anak Diwa (Titisan Dewa)

Kepercayaan ini dilihat dari keyakina masyarakat akan kejadian-kejadian yang luar biasa pada seorang bayi yang baru lahir. Umpama bila ayah dan ibunya berkuli thitam, sedangkan anak yang baru lahir itu berkulit putih dan cantik rupawan, maka anak ini dikatakan sebagi anak dewa, yang harus di syarati agar ia panjang umur, sbab kalau terlambat mensyaratinya, anak ini akan berumur pendek. Menurut kepercayaan ia akan diambil oleh dewa sebellum umur satu tahun.

Memang sering terjadi bahwa setelah anak disyarati dengan obat-obat dan mantera-mantera, ia akan berubah warna kulitnya dan akan meniru warna kulit kedua orang tuanya.

Dari uraian diatas kita dapat mengetahui bahwa orang lampung masih meyakini kepercayaan terhadap dewa-dewa. Masih banyak juga masyarakat Lampung yang melakukan lelaku atau tirakat bertapa (tarak) di gunung-gunung seperti Gunung Pesagi, Gunung Pugung dan beberapa gunung lainnya. Tujuannya adalah agar mendapat berkah dari para dewa yang akan mengabulkan permohonannya. (written by JOHN., sumber Adat istiadat Daerah Lampung, Balai Pustaka).

Menurut salah satu teori asal-usul terbentuknya masyarakat Lampung, penduduk Lampung yang berasal dari Sekala Brak, di kaki Gunung Pesagi, Lampung Barat disebut Tumi (Buay Tumi) menganut kepercayaan dinamis, yang dipengaruhi ajaran Hindu Bairawa. Buai Tumi kemudian kemudian dapat dipengaruhi empat orang pembawa Islam berasal dari Pagaruyung, Sumatera Barat yang datang ke sana.

Masyarakat Lampung didominasi oleh agama Islam, namun terdapat juga agama Kristen, Katolik, Budha dan Hindu. Untuk Lampung, persatuan adat, kekerabatan, kerajaan, (ke)marga(an), dan semacamnya memang lebih kental dalam bentukan identitas kolektif. Aspek agama Islam, ternyata memberikan warna dan pencitraan tersendiri dalam kaidah kelembagaan maupun kebudayaan.

Faktor alamiah, yang membuat identifikasi awal misalnya pranata sosial masyarakat dengan mentalitas Islam, religiositas tradisi, kebajikan-kebajikan sosial, kecenderungan untuk hidup bersama, kehalusan budi, dan conformism merupakan ciri-ciri peradaban Islam yang melekat dalam adat Lampung. Aplikasi nilai-nilai agama juga ternyata berpengaruh menimbulkan transformasi manusia dan kebudayaan di Lampung.

Masyarakat Lampung mengenal berbagai tradisi atau upacara yang tidak trerlepas dari unsur keagamaan. Dalam masyarakat Lampung ada beberapa bagian siklus kehidupan seseorang yang dianggap penting sehingga perlu diadakan upacara-upacara adat yang bercampur dengan unsur agama Islam.

Di antaranya adalah:

  1. upacara kuruk liman, disaat kandungan umur 7 bulan
  2. upacara saleh darah yaitu upacara kelahiran
  3. upacara mahan manik yaitu upacara turun tanah, bayi berumur 40 hari
  4. upacara khitanan bila bayi berumur 5 tahun
  5. upacara serah sepi bila anak berumur 17 tahun dan sebagainya
  6. Juga upacara perkawinan, kematian dan upacara adat lainnya seperti cokok pepadun yaitu pelantikan pengimbang baru sebagai kepala adat.

Orang-orang Lampung asli adalah penganut Islam Shafia, yang dianggap sebagai aliran yang lebih taat kepada ajaran Islam Maliki, Ambili, dan Hanafi. Orang Lampung di kota lebih taat dalam menjalankan keagamaan daripada orang Lampung di desa. Namun masih ada juga orang Lampung yang percaya pada dewa-dewa, makhluk halus, kekuatan gaib dan kekuatan sakti lainnya. Mereka mempunyai tempat keramat sumur Pitu dan benda keramat pamonah yang dipercayai dapat menangkal penyakit menular (ta’un). Selain itu, ada juga simbol-simbol yang berhubungan dengan kepercayaan mereka, seperti tanda salib dengan kapur sirih di atas pintu, jendela atau pada jalan masuk rumah lainnya adalah tanda kepercayaan untuk menghindari gangguan roh jahat seperti kuntilanak khususnya bila di dalam rumah ada wanita yang hamil tua.

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s